Kenapa Koruptor Lebih Buruk Dari Anjing? Ini Penjelasannya

Koruptor Lebih Buruk dari Anjing
Al-Quran menjelaskan kepada kita sekelompok manusia yang lebih hina dari binatang. Allah swt
berfirman didalam surat Al-Araf ayat 179: أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“Mereka itu seperti binatang, bahkan lebih buruk.”
Jika kita melihat Anjing, maka kita akan menemukan makhluk Allah swt yang paling setia dan amanat. Seperti Anjing pemburu yang diperintahkan tuannya untuk memburu hewan buruannya. Meskipun si Anjing kelaparan dan tidak makan berhari-hari, ia tidak akan memakan hewan buruan tuannya. Ia tidak akan mengkhianati kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan tuannya kepadanya.
Ia lebih memilih mati kelaparan daripada mengkhianati kepercayaan dan amanat tuannya. Sudah terlalu banyak kita mendengar dan menyaksikan kisah kesetiaan Anjing kepada tuannya.
Anjing najis karena hukum fiqih. Namun anjing menutupi kenajisan tubuhnya dengan sifat setia dan amanat terhadap tuannya. Najis secara fiqih, tidak mengurangi kekaguman sang tuan terhadapnya. Bahkan di Negara barat, kekaguman terhadap anjing diaplikasikan dengan menikahinya, sehidup-semati.
Korupsi adalah mencuri dan berkhianat atas amanat yang diembannya. Pengkhianatan terhadap amanat dan tanggung jawab yang diemban menjadikan koruptor lebih buruk dari Anjing.
Ya, karena Anjing tidak akan pernah mengkhianati amanat tuannya meski mati kelaparan. Koruptor mungkin secara Dhahir Fiqhi tidak najis, namun secara batin ia lebih najis dari Anjing.
Kitmir Anjing Ashabul Kahfi masuk surga bukan karena ke-anjingan atau kenajisannya, melainkan karena kesetiaannya. Begitupula Koruptor masuk neraka bukan karena ke-manusiaannya, keberagama-annya, Ke-Religiusan dirinya atau karena jenggot sunnah-nya, melainkan karena pengkhianatan amanat terhadap rakyat dan bangsanya secara keseluruhan.
Maafkan saya! Ampuni saya! tidak akan menjadi tiket masuk surga, kecuali mengganti seluruh harta yang dikorupsi dan yang paling sulit, meminta maaf dan keridhaan terhadap bangsa dan rakyat Indonesia. Baik yang telah mati karena kelaparan, atau yang masih berjuang demi bertahan hidup di kolong-kolong jembatan.
--- Abu Syirin Al-Hasan----- Baca Sumber :
Comments
Post a Comment