Front Pembela Islam ( FPI ) VS Twitter

Satu yang saya suka dari FPI adalah klaim-klaimnya. Dia mengklaim diri mewakili "umat Islam." Hal ini terutama muncul kalau dalam perasaan teraniaya. Dengan mencantolkan diri sebagai 'wakil umat Islam' FPI bebas bergerak dan berteriak apa saja. Ketika orang bereaksi, maka reaksi itu oleh
FPI diarahkan sebagai reaksi "umat Islam."

Permainan psikologis ini amat efektif. Bahkan tentara dan polisi tampaknya tunduk pada klaim ini. Juga partai-partai politik dan penguasa. 

Anehnya, tidak ada usaha untuk menanggalkan klaim-klaim besar  FPI tersebut. Mengapa? Disitulah politik bermain. FPI adalah proxy dari pertarungan politik para elit, baik sipil maupun militer.
Dengan bertingkahlaku demikian, FPI mampu menarik massa, khususnya di kalangan rakyat kecil. 

Ini juga hal lain yang saya sukai dari FPI. Dia mampu memompa harga diri orang-orang yang dulunya tidak pernah menjadi perhatian. Apalagi perhatian kelas menengah necis perkotaan.
Bayangkanlah jika Sodara pengangguran. Atau, tukang ojek pangkalan dengan sepeda motor kreditan. Siapakah yang akan memperhatikan Sodara di kampung atau lingkungan sekitar? Siapakah gadis yang akan melirik Sodara? 

Dengan tiba-tiba, Sodara akan menjadi mahluk yang lain ketika Sodara mengenakan seragam putih-putih FPI. Semua orang akan kagum. Sodara akan kelihatan macho. Lelaki sejati, siap berperang, untuk membela agama. Apalagi dengan slogan 'Hidup mulia atau mati syahid.' Ini adalah puncak dari segala puncak heroisme dan kelelakian (machoisme).

Gadis-gadis yang dulunya melirik pun tidak, sekarang tiba-tiba menjadi ramah. Orangtua yang punya anak gadis mendadak mencari tahu siapa Sodara. Nilai Sodara, dahulunya setara dollar Zimbabwe, dengan tiba-tiba setara dengan dollar Amerika! Tanpa inflasi! 

Saya kira, para elit FPI tahu persis kondisi psikologis dan sosiologis pengikutnya ini. FPI didirikan sebagai sesuatu yang bombastik! Tidak hanya dalam soal klaim. Juga dalam hal keduniaan. Jangan kira ketika mereka bicara surga, mereka lupa dunia (neraka boleh dilupakan -- kecuali untuk menakut-nakuti dan mengancam-ancam).

Itulah sebabnya para elit FPI sengaja tampil mewah dan boros. Mereka tidak tampil miskin, sederhana, atau kumal. Mereka harus tampil bersinar, megah (grandeur), dan macho. Itulah sebabnya mereka tampil dengan mobil-mobil yang berasosiasi dengan 'kemachoan': Hummer, Rubicon, Pajero Sports, dll. Mereka tidak suka tipe elegan para sosialita. Jelas sedan mewah seperti Mercedes Benz, BMW atau Lexus ttidak masuk hitungan. Mobil-mobil ini tidak macho. 

Bombastik, super-besar, super-heroik, dan sanggup menggetarkan surga. Itulah FPI.
Nah, Sodara mungkin akan nyengir melihat poster ini. Dadalannya adalah karena akun-akun twitter FPI dibekukan. Pihak twitter  sengaja melakukan itu karena FPI dianggap menyebar keonaran. Itulah yang memancing kemarahan FPI. 

FPI membikin hastag '#BoikotPerusahaanAsingPenistaIslam. Tentu Sodara tidak akan menghubungkan akun-akun twitter FPI dengan Islam bukan?

FPI menyerukan Aksi 271 -- aksi demonstrasi pada Jumat 27 Januari 2017 di depan kantor pusat Twitter di San Franscisco, Amerika Serikat. Wuihhh, FPI akan mendemo Twitter di Amerika Serikat? Tidak salah lagi. Iya. Benar! 

Setidaknya itulah yang ada dalam poster ini. Lihatlah kata-kata ini, "Sudah saatnya ribuan umat FPI di mancanegara dan di Amerika Serikat untuk bangkit bersama. Jangan biarkan FPI sebagai ormas terbesar di negara Muslim terbesar dilecehkan oleh asing di dunia internasional" ! Bombastik bukan?
Hanya saja, ada tulisan kecil yang menjadi semacam disclaimer di bawah. "Diutamakan yang sudah memiliki paspor dan bersedia membayar paket aksi." Distulah kuncinya. 

Seriuskan FPI akan mengadakan aksi di San Fransisco? Sulit untuk saya menjawabnya secara tegas. Akan tetapi saya tak hendak mempersoalkan keseriusan mereka. Yang lebih penting untuk dipersoalkan adalah untuk siapa poster ini? 

Saya kira poster ini tidak ditujukan untuk Sodara-sodara para borjuis kinclong dan sosialita elegan. Poster ini ditujukan pada para anggota FPI sendiri. Merekalah yang perlu dibikin mongkog perasaannya. Merekalah yang memerlukan bombasme semacam ini. 

Sekali lagi, bisakah Sodara bayangkan jika Sodara tukang ojek pangkalan dengan sepeda motor kreditan akan 'terwakili' mendemo perusahan raksasa di kantor pusatnya di San Fransisco, Amerika Serikat! Bisakah Sodara bayangkan bagaimana perasaan menggelembung Sodara? 

Ini barangkali terlalu komikal untuk Sodara. Tetapi apa yang tidak komikal dalam FPI? Tataplah Novel Bamukmin yang dalam namanya sudah melekat Habib itu. Kurang komikal apa? 

Para elit FPI tahu persis memainkan semua ini. Dengan bombastis mereka menggelembungkan rakyat-rakyat kecil yang sederhana ini dan membuat perasaan mereka terbang ke bulan.
Yang lebih paham lagi tentulah para elit yang menjadi FPI sebagai proxy mereka dalam bertarung untuk berebut kekuasaan. 

Merekalah yang sesungguhnya memegang peniti. Ketika tidak diperlukan lagi, mereka menusuk gelembung ini. Maka dia akan kempes segera. 

Yang bombastis itu pun kemudian menjadi komedi 

~Made Supriatma

Comments

Popular posts from this blog

Template Default Responsive Untuk Daftar Adsense